Jember — Bagi sebagian warga Desa Tisnogambar, kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif #5 selama lebih dari sebulan bukan sekadar tambahan aktivitas di desa. Di Dusun Krajan, kehadiran mereka perlahan mengisi ruang-ruang yang sebelumnya sepi, mulai dari rumah warga, lingkungan sekitar posko, sekolah, hingga kegiatan kampung.
“Seneng banget rasanya. Rumah jadi rame lagi. Biasanya sepi, sekarang ada anak-anak KKN yang tiap hari mampir, ngobrol. Rasanya kayak punya anak tambahan. Kami jadi ngerasa diperhatiin dan tidak sendirian,” kata ibu Ani Jasmaniah, salah satu warga yang tinggal di sekitar posko mahasiswa.
Ibu Ani merupakan salah satu dari warga yang merasakan kedekatan mahasiswa dengan masyarakat tidak berhenti pada kegiatan formal. Menurutnya, interaksi sehari-hari justru membuat hubungan itu tumbuh secara perlahan.
Pada Minggu, 19 Juli 2026, sebanyak 13 mahasiswa dari tiga perguruan tinggi tiba di Dusun Krajan, Desa Tisnogambar. Mereka kemudian mengikuti penerjunan KKN Kolaboratif #5 di Alun-alun Jember oleh Bupati Jember.
Tiga hari kemudian, Selasa (21/7/2026), mereka resmi diterima Pemerintah Desa Tisnogambar. Hari-hari berikutnya diisi dengan pengenalan wilayah sekaligus pelaksanaan sejumlah mandat Pemerintah Kabupaten Jember.
Para mahasiswa terdiri dari Yovanka Citra Agus Dina, Aditya Irgi Leo Saputra, Maulidia Azri Palupi, Ika Dwi Noor Wahyuni, Shafriel Bayu Fian Fikriansyah, dan Arjuna Shandy Saputra dari Universitas Jember; Ahmad Hadafi, Bagas Aji Dariansyah, Gracelle Saarce Devani Kaya, dan Aloisius Deardo Purba dari UPN “Veteran” Jawa Timur; serta Ahmad Irwanto, Fina Hiyarotul Ngula, dan Ach. Ayosy Bazly dari STIA Pembangunan Jember.
Kolaborasi tiga perguruan tinggi itu berjalan di tengah tiga mandat utama yakni memvalidasi dan memutakhirkan data masyarakat kelompok desil 2 untuk bantuan sosial, mengelola sampah dan kebersihan lingkungan, serta memperkuat layanan kesehatan.
Tuntaskan 522 KK dalam lima hari
Salah satu pekerjaan terbesar mereka adalah verifikasi dan validasi data desil 2. Dalam lima hari, mahasiswa mendatangi dan memutakhirkan data 522 kepala keluarga di Desa Tisnogambar.
Pekerjaan tersebut membawa mahasiswa langsung berhadapan dengan kondisi sosial masyarakat. Data yang semula berada di atas kertas harus dicocokkan kembali dengan keadaan di lapangan.
Bagi Pemerintah Desa Tisnogambar, pekerjaan itu memberikan manfaat langsung terhadap pembaruan basis data desa.
Bapak Haerul, perangkat Desa Tisnogambar, mengatakan verifikasi dan validasi yang dilakukan mahasiswa membantu pemerintah desa memperoleh data yang lebih akurat sekaligus mengoptimalkan ketepatan sasaran program.
“Untuk kegiatan verifikasi data dan validasi data itu sangat membantu pembaruan data yang lebih akurat dan lebih mengoptimalkan kepada sasaran program. Kami dapat meng-update atau memperbarui data yang kami punya setelah diverifikasi oleh teman-teman KKN.”
Mengubah Kebiasaan Persoalan Sampah
Mandat pengelolaan lingkungan diterjemahkan mahasiswa melalui sosialisasi dan pengaktifan Bank Sampah di Dusun Sira’an, pengenalan pemilahan sampah, pemanfaatan drop box, hingga praktik biopori.
Bagi pemerintah desa, program tersebut tidak hanya berhubungan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga kesadaran masyarakat mengenai cara memperlakukan sampah.
Pak Haerul mengatakan bahwa kegiatan bank sampah memberikan pencerahan dan kesadaran akan pentingnya membuang sampah tidak sembarangan sehingga mulai mendorong perubahan perilaku masyarakat.
Namun, ia menilai perubahan perilaku membutuhkan proses yang lebih panjang.
Pendekatan yang sama kemudian dibawa ke sekolah. Di SDN Tisnogambar 01, mahasiswa mengajarkan pengenalan sampah sekaligus membuat kerajinan daur ulang. Sementara di SDN Tisnogambar 02 dan SDN Tisnogambar 03, siswa diperkenalkan pada emosi melalui kegiatan pembelajaran yang lebih interaktif.
Suasana Baru di Sekolah
Kehadiran mahasiswa juga dirasakan dalam bidang pendidikan. Pak Haerul menilai keterlibatan mahasiswa memberikan pengalaman berbeda bagi siswa. “Kalian sudah memberikan suasana baru bagi anak-anak sekolah sehingga menambah semangat belajar dari mereka,” ujarnya.
Ika Dwi Noor Wahyuni, mahasiswa KKN, mengatakan kegiatan di sekolah memang dirancang agar anak-anak tidak sekadar menerima materi, tetapi memperoleh pengalaman yang mudah mereka ingat.
“Kami ingin kegiatan yang kami lakukan tidak berhenti sebagai sosialisasi. Anak-anak diajak mengalami langsung, baik saat belajar tentang emosi maupun ketika memilah sampah dan membuat kerajinan,” ujar Ika.
Membuka Ruang Bagi UMKM
Pada sektor ekonomi, mahasiswa mendampingi dua pelaku UMKM, yakni Tempe Fira dan Keripik Singkong Berkah Jaya, melalui program digitalisasi. Pak Haerul menilai pendampingan tersebut memberikan dampak positif terhadap pelaku usaha.
“Kemarin kalian hanya dua macam UMKM yang kalian datangi, yaitu pengusaha tempe dan pengusaha keripik singkong. Itu juga membawa dampak positif sehingga pelaku UMKM tersebut lebih semangat untuk menjalankan usahanya,” kata pak Haerul.
Meski belum mencakup seluruh pelaku usaha di desa, pendampingan tersebut setidaknya membuka ruang bagi pelaku UMKM untuk melihat peluang pemanfaatan teknologi digital dalam menjalankan usaha.
Dari Kegiatan Menjadi Kedekatan
Di luar program yang terukur dalam angka, mahasiswa juga membangun hubungan melalui aktivitas sehari-hari warga. Mereka membantu berkebun, mengeringkan gabah, membersihkan lingkungan, mengikuti pengajian bersama PKK Kecamatan Bangsalsari, hingga terlibat dalam semarak lomba Agustusan di Dusun Krajan.
Anak-anak sekitar posko mulai sering datang untuk bermain, belajar, mengikuti senam, hingga mengikuti lomba.
Bagi ibu Ani, keakraban itu justru menjadi salah satu dampak paling terasa.
“Anak-anak sering bermain ke posko, belajar, senam bahkan ikut lomba. Yang awalnya canggung lama-lama jadi akrab karena kalian mau berbaur dengan sekitar posko,” ujarnya.
Ia juga menyoroti lomba Agustusan yang khusus melibatkan ibu-ibu. Menurut ibu Ani, kegiatan tersebut menjadi pengalaman baru bagi warga sekitar.
“Yang paling kerasa, kami ibu-ibu sekitar posko merasa terhibur dengan adanya lomba Agustusan. Jujur setiap ada anak KKN belum pernah ada lomba buat ibu-ibu. Baru di KKN kalian ini ada lomba khusus buat ibu-ibu,” imbuhnya.
Kedekatan itu kemudian membuat perpisahan terasa lebih emosional.
“Kesannya baik-baik semua. Ramah, sopan, tidak jaim. Mau duduk lesehan, rujakan dan makan bareng-bareng sama kami. Awalnya canggung, lama-lama sudah kayak keluarga sendiri. Sedih juga setelah kalian pamitan,” tutup ibu Ani.
Bukan Tentang Berapa Banyak Program
Sepanjang pelaksanaan KKN, mahasiswa menjalankan sedikitnya terdapat 19 kegiatan, mulai dari verval data desil 2, pengelolaan sampah, penguatan layanan kesehatan, pendidikan, digitalisasi UMKM, edukasi wisata dan budaya, optimalisasi website desa, hingga ekspo dan penutupan KKN Kolaboratif.
Bila ditarik lebih luas, program-program tersebut berkaitan dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Verval data desil 2 berkaitan dengan SDG 1: Tanpa Kemiskinan, terutama dalam mendukung ketepatan data penerima program sosial. Sosialisasi BPJS mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, sedangkan kegiatan pembelajaran di sekolah berkaitan dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas.
Pendampingan digitalisasi UMKM beririsan dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Bank sampah, pemilahan sampah, biopori, dan edukasi daur ulang berkaitan dengan SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan serta SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Sementara kolaborasi tiga perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat mencerminkan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Bagi Aditya Irgi Leo Saputra, pengalaman tersebut membuat proses KKN tidak lagi dipandang sebatas penyelesaian tugas akademik.
“Kami bukan cuma datang untuk menyelesaikan data, tapi juga belajar memahami kondisi masyarakat secara langsung. Dari situ kami tahu bahwa setiap data punya cerita dan kondisi keluarga yang berbeda.” Ujarnya.
Pada akhirnya, keberhasilan KKN tidak hanya dapat dibaca dari angka 522 KK yang tervalidasi atau 19 kegiatan yang terlaksana. Ada perubahan kecil yang lebih sulit dihitung, warga yang mulai mengenal pemilahan sampah, pelaku UMKM yang lebih bersemangat, siswa yang mendapatkan suasana belajar baru, dan hubungan sosial yang tumbuh dari interaksi sehari-hari.
Bahkan, bagi ibu Ani, keberadaan mahasiswa sempat membuat rumah yang biasanya sepi terasa lebih hidup. Perasaan itu bahkan terbawa sampai mahasiswa meninggalkan posko.
“Harapannya apa yang sudah dimulai bisa diterusin sama warga sekitar. Jangan berhenti di KKN saja. Pesan ibu, jaga terus semangatnya buat ngabdi. Sukses terus ya nak, jadi orang yang berguna. Kapan-kapan mampir lagi ke sini, rumah ibu selalu terbuka,” pesan ibu Ani.
Rangkaian KKN kemudian ditutup dengan pengerjaan jurnal dan laporan, ekspo, serta penutupan KKN Kolaboratif.
Tetapi bagi warga yang telah terbiasa melihat mahasiswa datang dan duduk bersama di depan rumah, penutupan itu tidak serta-merta menghapus jejak mereka.
KKN mungkin mempunyai tanggal mulai dan selesai. Namun, bagi Desa Tisnogambar, sebagian hasilnya justru terletak pada hal-hal yang diharapkan terus berjalan setelah mahasiswa pulang, data yang lebih mutakhir, kebiasaan menjaga lingkungan, semangat belajar anak-anak, usaha warga yang semakin percaya diri, dan hubungan yang sudah terlanjur terasa seperti keluarga.
Bagi segenap warga Desa Tisnogambar, Terima kasih.
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif #5 Tahun 2026
Penulis: Bagas Aji Dariansyah (bag)