Berita Desa

Mahasiswa KKN Kolaboratif Bantu UMKM Tisnogambar Bangun Jejak Digital

Jember — Sebanyak 13 Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif dari Universitas Jember (UNEJ), UPN “Veteran” Jawa Timur, dan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Pembangunan Jember secara langsung terjun mengenal aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Desa Tisnogambar, Jember.

Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi kunjungan. Mahasiswa ikut mengenal dan mempelajari proses produksi hingga cara pemasaran produk UMKM sebagai bagian dari pembelajaran lapangan sekaligus upaya mendukung keberlangsungan usaha masyarakat desa.

Dua UMKM yang menjadi bagian dari kegiatan ini adalah Tempe Fira milik bapak Habiburrahim dan Singkong Berkah Jaya milik bapak Qadir. Keduanya menunjukkan bagaimana usaha berbasis potensi lokal dapat menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat Desa Tisnogambar.

Bapak Habiburrahim mengatakan bahwa Tempe Fira telah dirintis sejak tahun 2025. Proses pembuatan tempe dimulai dari perendaman, perebusan hingga tahap pendinginan. Namun, proses tersebut memiliki tantangan tersendiri, terutama ketersediaan air saat musim kemarau.

“Kendala saya itu air untuk proses produksi, terlebih pada saat musim kemarau,” ujar bapak Habiburrahim.

Meski terkadang menghadapi kendala produksi, ia memiliki harapan besar terhadap perkembangan usahanya. Ia ingin Tempe Fira berkembang menjadi merek yang dikenal di Jember dan sekitarnya, bahkan hingga pasar internasional.

Harapan serupa datang dari bapak Qadir, pemilik Singkong Berkah Jaya yang telah menjalankan usahanya selama kurang lebih 10 tahun. Usaha tersebut memproduksi keripik singkong dengan rangkaian proses mulai dari pengupasan, pemotongan, perendaman, pengeringan, penggorengan hingga pengemasan.

Mahasiswa turut terlibat dalam proses pembuatan, termasuk membantu pemotongan singkong dan mendokumentasikan aktivitas produksi melalui video.

Bagi bapak Qadir, tantangan terbesar justru berada pada ketersediaan bahan baku. Ia pernah mengalami kondisi ketika tidak mendapatkan pemasok singkong selama lebih dari tiga bulan sehingga harus mencari pemasok dari berbagai daerah lain.

Ia berharap usahanya dapat berjalan lebih lancar dengan dukungan, khususnya dalam aspek pemasaran dan pasokan bahan baku. Promosi secara daring juga dinilai penting untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan penjualan.

Mahasiswa KKN Kolaboratif desa Tisnogambar tidak hanya mendapat pengalaman produksi dalam UMKM, tetapi juga membantu penguatan aspek digitalisasi. Mahasiswa membantu sejumlah kebutuhan digitalisasi produk, seperti pembuatan logo, Google Maps, serta video yang dapat digunakan untuk promosi digital.

Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami secara langsung bagaimana UMKM berjalan dari sisi produksi hingga penjualan. Di sisi lain, UMKM memperoleh dukungan yang dapat membantu memperkenalkan produknya kepada pasar yang lebih luas.

Keberadaan UMKM juga memiliki peran penting bagi pembangunan desa. UMKM dapat menggerakkan ekonomi lokal, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta mendorong kegiatan usaha produktif. Hal tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.

Selain itu, pendampingan dalam digitalisasi, inovasi produk, pemasaran digital, dan pemanfaatan teknologi berkorelasi dengan SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.

Melalui kegiatan tersebut, KKN Kolaboratif desa Tisnogambar tidak berhenti pada aktivitas seremonial. Mahasiswa belajar dari pelaku usaha, sementara UMKM mendapatkan ruang dukungan untuk berkembang dan semakin dikenal. (bag)

Penulis: Bagas Aji Dariansyah

Beri Komentar